Hari ini aku percaya, bahkan akan selalu percaya. Bahwa
menjadi seseorang yang luar biasa itu tidak akan terjadi begitu saja. Butuh
pengorbanan yang luar biasa pula.
Aku
menatap cemas kepada wanita tua ini, tubuhnya sudah mulai renta, garis-garis penuaan
pun sudah semakin terlihat jelas diwajahnya. Oh ibu, sungguh kasihan sekali
dirimu, di usia senjamu ini, kau tetap memikirkan aku, anakmu.
Ingin sekali, menghabiskan sebagian waktuku untuk
menemanimu, berbagi cerita denganmu, dan membuatmu selalu tersenyum. Tapi, saat
ini aku sungguh tidak bisa melakukan itu semua, hanya sekedarnya saja.
Semua itu karena kegiatan aku ini, menjadi seorang dokter di
daerah pedalaman, di daerah Kalimantan tepatnya. Jadwalku sungguh padat, karena
kurangnya tenaga dokter untuk daerah pedalaman tersebut sangat sedikit, dan
kesehatan penduduk di daerah tersebut sangat memprihatinkan. Sehingga, untuk
sekedar menjumpaimu pun, aku membutuhkan waktu yang kosong.
##
Masih teringat, akan masa-masa itu. Masa dimana kau sangat
menyemangatiku, sangat mendukungku, sangat mendesakku untuk menjadi seorang
dokter. Ya, kau begitu memahamiku, apa yang kuinginkan, kau selalu mendukungku
dan kau turuti. Hingga akhirnya, gelar dokter sudah kudapat, dan aku ditugaskan
di daerah Kalimantan pedalaman. Hingga akhirnya kau pun meng iya kan.
Aku tahu, aku anak satu-satunya, dan berjauhan dengan ibuku
bukanlah hal yang mudah. Perjuangan luar biasanya kepadaku semakin membuatku
bersemangat melakukan tugas muliaku ini.
Dan kini, setelah bertahun-tahun aku dapat mengunjungimu,
setelah sekian lama hanya bisa mendengar suaramu, kini aku dapat melihatmu,
sungguh bahagia sekali diriku. Lihatlah ibu, anakmu kini sudah menjadi orang
yang luar biasa untuk orang-orang yang membutuhkanku disana.
Aku bahagia ibu, perjuangan luar biasamu, merelakan harus
berjauhan dengan anakmu, tak sia-sia hasilnya pun, ibu.
Aku bahagia ibu, terlebih lagi aku dilahirkan dari seseorang
yang luar biasa, dan aku pun menjadi luar biasa karenanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar