Aku tak boleh lagi memikirkannya,
apalagi sampai merindukannya! ,aku tau ini kesalahan terbesarku , terlalu
mencintai sesorang yang aku pun tak tahu bagaimana untuk tidak dapat
mencintainya lagi. Tapi sekarang, aku akan menata hatiku lebih baik lagi. Tidak
sampai melupakannya, tapi untuk tidak mengulangi kesalahanku lagi.Anggap saja,
semua yang pernah kita lewati hanya sebatas slide show kenangan, yang secara
beraturan lewat dan lewat begitu saja yang hanya dapat kita lihat, tanpa bisa
mengulanginya lagi hal seperti itu.
Ya! Aku bisa, aku bisa walau aku tak tau
perasaanmu saat ini seperti apa, tapi yang jelas aku dapat menangkap bagaimana
keadaan perasaanmu saat ini. Seperti itulah, jenuh mungkin terhadapku, terhadap
perasaan kita saat ini. Sudahlah , rasa lelah telah lama menyergapku, tapi dulu
tetap kupertahankan. Namun sekarang, aku rasa aku harus mengistirahatkan
perasaanku ini. Aku sudah benar-benar lelah. Sungguh , karena aku tak mungkin
memaksakan perasaanmu, perasaan kita.
Kututup catatan terakhir yang
telah aku buat. Rasa sesak telah meyergapku.
“kamu benar-benar ingin
‘melepasnya’ dinda?” Tanya Tria teman dekatku
“ya Tri, sungguh, aku sudah siap
dengan segala kemungkinan yang terjadi nanti..” .
Tria menepuk bahuku, memberi semangat.
Seketika mataku mulai menghangat, kusentuh mataku, basah.basah. ya!aku
menangis, menangisi sesuatu yang seharusnya tidak perlu kutangisi. Sungguh ini
adalah suatu proses, proses yang menentukan masa depanku.
5 tahun kemudian…
Di salah satu stasiun televisi
ternama, aku bekerja. dengan segala aktivitas yang menyibukanku, membuat aku
lupa akan kejadian ‘melepas’ seseorang yang amat kusayangi.
Dan tiba-tiba,..
Kring…kring..
“halo..” ucapku, “ya..mbak
Dinda,ditunggu oleh sesorang di lobi kantor” jawab Ratna salah seorang resepsionis. “siapa ratna? Darimana?
“ tanyaku aneh.
“saya tidak tahu mbak, tapi yang jelas dia
teman mbak Dinda” jawab Ratna menjelaskan.
“oh yasudah, nanti saya kesana, terimakasih
ya..” ucapku.
“ya sama – sama mbak “ .
Dengan santai aku keluar dari
ruang kerjaku, membicarakan seputar berita yang akan diliput esok hari. Ketika
telah sampai di lobi kantor, aku menemui Ratna, dan menanyakan tamu yang ingin
bertemu denganku. Ratna menunjuk kepada seorang laki-laki , laki-laki yang
berdiri di depan kantor,membelakangiku. Lalu kuhampiri ia, dan kuberanikan diri
untuk menegurnya, tapi.. tunggu dulu sepertinya aku pernah mengenalinya.
“maaf, apa anda yang mencari
saya, Dinda Farhania?” tanyaku hati-hati
Seketika ia berbalik, tersenyum
dan.. oh tuhan.. cirri khasnya itu! Itu yang tak pernah ku lupa, sampai saat
ini, tatapan matanya, ya! Tatap mata yang penuh kasih sayang. Ia,,ia adalah
seseorang yang dulu aku ‘lepaskan’ , lebih tepatnya melepaskan perasaan secara
sepihak, perasaanku sendiri.
Dia
adalah Arga Fariza..
“ya, saya,, saya mencari mbak Dinda , Dinda Farhania.
Seorang jurnalis ternama yang sangat saya rindukan selama ini, yang saya cari
selama ini ,, apakah anda orangnya?” tanyanya tersenyum manis.
sambil tersenyum yang
tak dapat kuartikan apa dibalik senyuman itu semua. Aku menangis,, ah aku
benci! , mengapa disaat saat seperti ini kenapa aku mudah sekali menitikkan air
mata.
“hey.. jangan menangis..”
tegurnya
“sudah Dinda, jangan menangis, kenapa kamu menangis?”
tanyanya lagi. Dan akhirnya akupun tertawa, tertawa sambil menangis lebih
tepatnya. Menangis haru, dia mencariku selama ini, selama 5 tahun ini, yang
hanya karena keegoisanku.
Apa kau tahu? Mendengar tawamu lagi setelah
lima tahun tidak mendengarnya, membuatku kembali ingat apa rasanya bahagia.
“apa kabar Arga?” tanyaku hati-hati.
“aku? Aku ya,, seperti yang kau lihat sekarang ini, baik,
selalu baik, dan saat ini ketika aku bertemu denganmu, kurasa aku jauh lebih
baik “ jawabnya sungguh sungguh.
Ah, Arga selalu begitu, selalu
membuat hatiku menjadi tenang, bukan hanya sekedar kata-katanya. Tapi apa ya?
Entahlah, seakan-akan ada hal yang membuatku sangat mempercayainya.
Dia mengajakku pergi ke kantin di
belakang gedung. Aku mengangguk menyetujui. Sepanjang perjalanan, aku hanya
diam. Taka ada satupun kata terucapkan. Begitupun Arga, hanya sesekali
melirikku atau tersenyum. Manis sekali.
Hatiku selalu sakit tiap kali mendengar
kabarmu, tidak tahu apa-apa tentangmu adalah hal yang paling tidak ingin
kulalui lagi. Sudah sejauh ini aku mengejarmu dan tak akan pernah melepasmu
lagi.
Setibanya di kantin, aku lebih
memilih bangku disudut, dekat dengan penjual mie ayam.
“mau pesan apa Din?” Tanya Arga ,
“aku mau jus alpukat aja.”
Arga memesan jus alpukat untukku,
dan ia memesan kopi panas.
Sambil menunggu pesanan datang,
Arga duduk dihadapanku,
“Arga, kamu lagi sibuk apa sekarang
?” tanyaku, oh Tuhan.. tatapan mata penuh kasih sayang itu, masih terpancar
amat jelas .
“aku lagi sibuk buka usaha
kecil-kecilan Din, tapi Alhamdulillah sih, udah lebih dari cukup. “ jawabnya.
“syukur kalo begitu..” ucapku
tersenyum.
Lalu pesanan pun datang, langsung
ku minum jus alpukat kesukaanku.
“gimana sama kerjaan kamu, Din?”
Tanya Arga
“ya begitulah Ga, asyik, walau aku
cape atau apa, tapi aku bener-bener nikmatin itu semua Ga..”
“syukurlah Din, emang itu kan dari
dulu yang kamu mau”
“iya Ga, Alhamdulillah..”
“tapi Din, kehidupanku masih belum
sempurna..”
“maksudnya? Belum sempurna gimana
Ga?”
“iya, ada bagian didalam hidup aku
,yang belum terlengkapi”
Aku diam, tak mengerti.
“apakah kamu mau melengkapi
ketidaksempurnaanku ini, din?”
“aku ga ngerti ga, kamu dateng ke
kehidupanku lagi sekarang ini, sekarang, kita ngobrol-ngobrol begini, setelah 5
tahun ini, juga aku ga ngerti ga, dan sekarang, aku suruh ngelengkapin hidup
kamu yang belum sempurna, aku lebih ga ngerti ga….”
Arga diam, menatapku dalam-dalam,
dan ia menghela nafas..
“ ada alasan kenapa aku nyari kamu
selama ini, dinda”
Aku diam, menunduk, rasanya tak
ingin mendengar kelanjutan arah pembicaraan ini kemana.
“ada hal yang ngeyakinin aku buat
nyari kamu selama ini Dinda, aku pasrah pas kamu hilang dari kehidupanku dulu,
tapi aku tetap nggak bisa, ngeganti kamu dengan orang lain, aku udah coba Din,
tapi nggak tau kenapa, Cuma kamu dinda, kamu yang jelas, kamu yang selalu hadir
selama ini, kamu..kamu alasan aku selama ini dinda..”
Aku terus menunduk. Iya, Arga benar, sangat benar . tapi, tak ada
keinginanku untuk mencari orang lain selain Arga, walaupun kejadian itu telah
berlalu ,5 tahun yang lalu. Karena akupun merasa Arga akan kembali, kembali
kepadaku.
“Dinda…”
Aku mengangkat muka
“ya…” Jawabku
“kamu mau menjadi pendamping di
masa depanku, masa depan kita?” Tanya Arga lagi, menegaskan.
Aku diam, dan mengangguk perlahan, aku tak bisa membohongi perasaanku lebih
lama lagi, dan aku siap ,aku siap akan semua keadaan yang akan terjadi,nanti,
karena Aku tidak mau masa depan yang tidak ada kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar